Minggu, 04 Desember 2016

Metode Pembelajaran PAUD Dalam Perspektif Islam

Metode Pembelajaran PAUD Dalam Perspektif Islam
Metode Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Islam. --Metode Pembelajaran PAUD Dalam Perspektif Islam-- Untuk merealisasikan pelaksanaan kegiatan pendidikan pada anak usia dini serta guna mencapai hasil yang menggembirakan, para pendidik hendaklah senantiasa mencari berbagai metode yang efektif, serta mencari kaidah-kaidah pendidikan yang berpengaruh dalam mempersiapkan dan membantu pertumbuhan anak usia dini, baik secara mental dan moral, spiritual dan etos sosial, sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna guna menghadapi kehidupan dan pertumbuhan selanjutnya.
Metode Pembelajaran PAUD Dalam Perspektif Islam
Dengan bersumberkan kepada Al Qur-an dan hadis, ada beberapa metode pendidikan Islam yang dapat dan layak diterapkan pada kegiatan pendidikan terhadap anak usia dini. Metode dimaksud adalah:
1. Metode dengan Keteladanan
Keteladanan dalam pendidikan Islam, merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak sejak usia dini. Hal ini karena pendidik adalah figure terbaik dalam pandangan anak didik yang tindak tanduknya dan sopan santunnya, disadari atau tidak akan menjadi perhatian anak-anak sekaligus ditirunya. Keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Jika pendidik dan orang tua jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama.
Anak usia dini, bagaimanapun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimanapun sucinya fitrah, tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia (anak usia dini) tidak melihat pendidik dan orang tua sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi. Kiranya sangat mudah bagi pendidik untuk mengajari anak dengan berbagai materi pendidikan, tetapi teramat sulit bagi anak untuk melaksanakannya jika ia melihat orang yang memberikan pengajaran tidak mengamalkan-nya.
Allah swt, juga telah mengajarkan bahwa rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia, adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral maupun intelektual. Sehingga umat manusia meneladaninya, belajar darinya, memenuhi panggilannya, menggunakan metodenya dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji. Allah mengutus Muhammad Saw. Sebagai teladan yang baik bagi umat Islam sepanjang jaman, dan bagi umat manusia di setiap saat dan tempat, sebagai pelita yang menerangi dan purnama yang memberi petunjuk. Allah berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 21:
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
Ayat tersebut ditafsirkan oleh Baidhawi, bahwa uswatun hasanah yang dimaksud adalah perbuatan baik yang dapat dicontoh[30].Dalam ringkasan tafsir Ibnu Kasir disebutkan bahwa ayat ini merupakan prinsip utama dalam meneladani Rasulullah SAW, baik dalam ucapan, perbuatan maupun sikap dan perilakunya.[31]
Islam telah menyajikan pribadi Rasul sebagai suri teladan yang terus-menerus bagi seluruh pendidik, suri teladan yang selalu baru bagi generasi demi generasi, dan selalu aktual dalam kehidupan manusia, setiap kali kita membaca riwayat kehidupannya bertambah pula kecintaan kita kepadanya dan tergugah pula keinginan untuk meneladaninya. Islam tidak menyajikan keteladanan ini sekedar untuk dikagumi atau sekedar untuk direnungkan dalam lautan hayal yang serba abstrak. Islam menyajikan riwayat keteladanan itu semata-mata untuk diterapkan dalam diri setiap individu muslim baik itu anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam memberikan pendidikan kepada anak usia dini, pendidikan dengan memberi teladan secara baik dari para pendidik dan orang tua, teman bermain, pengajar, atau kakak, akan merupakan faktor yang sangat memberikan bekas dalam membina pertumbuhan anak, memberi petunjuk, dan persiapannya untuk menjadi melanjutkan kehidupannya di fase-fase perkembangan selanjutnya.
Dengan demikian perlu dipahami oleh para pendidik dan orang tua bahwa mendidik dengan cara memberi teladan yang baik, terutama pada masa anak usia dini sesungguhnya penopang utama dan dasar dalam meningkatkan anak usia dini pada keutamaan, kemuliaan dan etika sosial yang terpuji.[32] Manusia telah diberi fitrah untuk mencari suri teladan agar menjadi pedoman bagi mereka, yang menerangi jalan kebenaran dan menjadi contoh hidup yang menjelaskan kepada mereka bagaimana seharusnya melaksanakan syrai'at Allah.

Karenanya, untuk merealisasikan risalahNya di muka bumi, Allah mengutus para rasulNya yang menjelaskan kepada manusia syari'at yang diturunkan Allah kepada mereka. Anak usia dini merupakan tingkat usia yang dalam pertumbuhannya memiliki keterkaitan besar terhadap keteladanan dari pihak luar dirinya. Di dalam kehidupan berkeluarga misalnya, anak usia dini membutuhkan suri teladan, khususnya dari kedua orang tuanya, agar sejak dini (masa kanak-kanak) ia menyerap dasar tabiat perilaku Islami dan berpijak pada landasannya yang luhur.
Keteladanan yang baik memberikan pengaruh besar terhadap jiwa anak, sebab anak banyak meniru kedua orang tuanya. Anak-anak akan selalu memperhatikan dan mengawasi perilaku orang tuanya atau orang dewasa lainnya, dan mereka akan mencontohnya, jika anak mendapati orang tuanya berlaku jujur, mereka akan tumbuh dengan kejujuran. Kedua orang tua dituntut mengimplementasikan perintah-perintah Allah dan sunnah Rasul sebagai perilaku dan amalan serta terus menambah amalan-amalan sunnah tersebut semampunya, karena anak-anak akan terus mengawasi dan meniru mereka setiap waktu. Kemampuan anak dalam menerima teladan dari orang dewasa secara sadar atau tidak sadar sangatlah tinggi, meskipun anak-anak sering dianggap sebagai makhluk kecil yang belum mengerti dan paham ajaran Islam, tetapi dengan melihat teladan yang diberi orang dewasa hal itu akan memberi bekasan pada diri anak.[33]
Di sekolah, anak-anak juga membutuhkan suri teladan yang dilihatnya langsung dari setiap guru yang mendidiknya, sehingga dia merasa pasti dengan apa yang dipelajarinya. Pada perilaku dan tindakan guru-gurunya, hendaknya anak dapat melihat langsung bahwa tingkah laku utama yang diharapkan mereka melakukannya adalah hal yang tidak mustahil dan memang dalam batas kewajaran untuk direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.[34]
2.  Pendidikan dengan Latihan dan Pengamalan
Islam merupakan agama yang menuntut para pemeluknya mampu merealisasikan berbagai ajaran Islam dalam bentuk amal nyata yaitu berupa amal şaleh yang diridhai Allah SWT.  Islam menuntut umatnya agar mengarahkan segala tingkah laku, naluri, aktivitas dan hidupnya untuk merealisasikan adab-adab dan perundang-undangan yang berasal dari Allah secara nyata. Dalam hal pendidikan melalui latihan pengamalan, Rasulullah SAW, sebagai pendidik Islam yang pertama dan utama sesungguhnya telah menerapkan metode ini dan ternyata memberikan hasil yang menggembirakan bagi perkembangan Islam di kalangan sahabat. Dalam banyak hal, Rasul senantiasa mengajarkannya dengan disertai latihan pengamalannya, di antaranya; tatacara bersuci, berwudhu, melaksanakan şalat, berhaji dan berpuasa.
Atas dasar ini, maka dalam pelaksanaan pendidikan Islam baik kepada orang dewasa, apalagi terhadap anak-anak usia dini pendidikan melalui latihan dan pengamalan merupakan satu metode yang dianggap penting untuk diterapkan. Metode belajar learning by doing atau dengan jalan mengaplikasikan teori dan praktik, akan lebih memberi kesan dalam jiwa, mengokohkan ilmu di dalam kalbu dan menguatkan dalam ingatan.
Di antara yang dapat dilatihkan sebagai amalan bagi anak-anak usia dini antaranya ialah; cara menggosok gigi, latihan mencuci tangan yang benar, cara beristinja, latihan berwudhu', mengucapkan salam ketika masuk rumah, serta beberapa do'a yang harus diamalkan sebagai mengawali berbagai aktivitas sehari-hari, seperti do'a hendak dan sesudah makan, do'a hendak dan bangun tidur, do'a masuk kamar mandi, dan do'a lain yang mudah diamalkan oleh anak-anak usia dini. Orang tua wajib membiasakan atau melatih anak-anak mereka pergi ke masjid, juga melaksanakan şalat di rumah maupun di sekolah. Hal ini dapat dibaca pada hadis berikut ini:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ أَبِي قَالَ وَجَعَلْتُ يَدَيَّ بَيْنَ رُكْبَتَيَّ فَقَالَ لِي أَبِي اضْرِبْ بِكَفَّيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ قَالَ ثُمَّ فَعَلْتُ ذَلِكَ مَرَّةً أُخْرَى فَضَرَبَ يَدَيَّ وَقَالَ إِنَّا نُهِينَا عَنْ هَذَا وَأُمِرْنَا أَنْ نَضْرِبَ بِالْأَكُفِّ عَلَى الرُّكَبِ

Artinya: Hadis Saad bin Abi Waqqas r.a: Diriwayatkan daripada Mus'ab bin Saad r.a katanya: Aku pernah sembahyang di sisi ayahku. Aku rapatkan tangan antara kedua lututku. Lalu ayahku berkata kepadaku: Letakkan kedua telapak tanganmu pada lututmu. Kemudian aku melakukan hal itu sekali lagi. Lalu ayah memukul tanganku sambil mengatakan: Sesungguhnya kita dilarang dari melakukan ini yaitu meletakkan tangan di antara dua lutut dan kita diperintahkan supaya meletakkan tangan di atas lutut. (HR. Muslim)[35]
Metode Pembelajaran PAUD Dalam Perspektif Islam
Nilai pendidikan yang terdapat dalam hadis di atas adalah tentang praktik melatih anak dalam melaksanakan şalat. Praktik pendidikan şalat seperti inilah yang seyogiyanya diterapkan oleh para orang tua dalam memberi pendidikan sholat kepada anak-anaknya, sehingga anak tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis tentang şalat, tetapi juga memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sifatnya praktis tentang şalat, dan dengan demikian maka anak akan mampu melaksanakan şalat dengan benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam hadis lain ditemukan juga bagaimana Rasulullah memberi pendidikan şalat kepada anak-anak, seperti sabda beliau yang diriwayatkan dari Anas:
حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ مُسْلِمُ بْنُ حَاتِمٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَالِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ الِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ هَلَكَةٌ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَفِي التَّطَوُّعِ لَا فِي الْفَرِيضَةِ

Artinya: Berkata Anas bin Malik telah berkata Rasulullah SAW; “Hai anakku, janganlah engkau menoleh ke sana ke mari dalam şalat, karena akan merusak şalat, jika engkau terpaksa melakukan hal itu, maka boleh dilakukan hanya dalam şalat sunnah, dan bukan dalam şalat fardhu”.(HR. at-Tirmiżi)[36]
Hadis ini dikeluarkan oleh Rasulullah dalam rangka memberi peringatan kepada anak-anak agar tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sedang melaksanakan şalat, dan ini sesungguhnya merupakan bukti perhatian Rasul dalam mengajarkan kepada anak-anak tentang tatacara şalat.[37] Para sahabat juga menempuh cara yang sama dalam memberi pendidikan şalat kepada anak-anaknya dengan cara memberi contoh kepada anak-anaknya tentang berbagai tata cara şalat sesuai dengan yang diajarkan Rasul Saw. Cara ini juga pantas jika dipraktikkan oleh para orang tua Muslim dalam memberi pendidikan şalat kepada anak-anaknya, terutama tentang ketertiban dalam şalat (larangan menoleh ke kanan atau ke kiri pada waktu şalat).
Orang tua juga berkewajiban melatih mereka melaksanakan puasa dan infaq, bersedekah serta berbuat baik kepada tetangga dan orang-orang fakir, juga menolong orang-orang yang lemah. Disamping itu juga harus dilatih menghormati orang yang lebih tua dan telah berumur, dilatih/dibiasakan melakukan berbagai kegiatan dengan niat kerena keridhaan Allah semata, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Mengorbankan harta serta diri mereka di jalan Allah, melaksana-kan kewajiban agama, menegakkan moral Islam, khususnya mengenakan jilbab bagi anak perempuan.[38]
3.  Mendidik melalui permainan, nyanyian, dan cerita
Sesuai dengan pertumbuhannya, anak usia dini memang lagi gemar-gemarnya melakukan berbagai permainan yang menarik bagi dirinya. Berkaitan dengan ini, maka pendidikan melalui permainan merupakan satu metode yang menarik diterapkan dalam pendidikan anak usia dini.

Tentu saja permainan yang positif dan dapat mengembangkan intelektual dan kreativitas anak-anak. Bagi anak-anak usia balita, bermain dengan ibu tentu lebih banyak dampak positifnya karena lebih memperlancar komunikasi antara keduanya, adalah teman terbaik bagi mereka.[39]
Hal ini dapat dibaca pada hadis Rasul yang menjelaskan tentang cara memberi pendidikan puasa kepada anak-anak berikut ini:
و حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ بْنِ لَاحِقٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
Diriwayatkan daripada Ar-Rubaiyyi' binti Muawwiz bin Afra' r.a katanya: Pada hari Asyura, Rasulullah s.a.w telah mengirimkan surat ke perkampungan-perkampungan Ansar di sekitar Madinah yang berbunyi: Siapa yang berpuasa pada pagi ini hendaklah menyempurnakan puasanya dan siapa yang telah berbuka yaitu makan pada pagi ini hendaklah dia juga menyempurnakannya yaitu berpuasa pada pagi harinya. Selepas itu kami pun berpuasa serta menyuruh anak-anak kami yang masih kanak-kanak supaya ikut berpuasa, jika diizinkan Allah. Ketika kami berangkat menuju ke masjid, kami buatkan suatu permainan untuk anak-anak kami yang diperbuat dari bulu biri-biri. Jika ada di antara mereka yang menangis meminta makanan, kami akan berikan mainan tersebut sehingga tiba waktu berbuka. (HR.Muslim)[40]
Dengan membaca hadis di atas, dapat diketahui bahwa pendidikan puasa kepada anak dapat dilakukan dengan cara melatih mereka berpuasa dan jika mereka menangis meminta makanan dapat dialihkan keinginan mereka dengan cara memberi mainan kepada mereka, sehingga anak-anak lupa akan rasa laparnya dan asik dengan permainannya, selain itu anak juga merasa terhibur oleh permainan dan tidak merasakan panjangnya hari yang mereka lalui dengan puasa. Ibnu Hajar seperti dikutip Suwaid, menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya melatih anak-anak untuk berpuasa, sebab usia yang disebutkan dalam hadis tersebut belum sampai pada masa mukallaf, akan tetapi hal itu dilakukan sebagai bentuk latihan.[41]
Namun perlu diingat pula bahwa yang paling perlu orang tua usahakan pertama kali sebelum mengenalkan dan melatih bepuasa adalah mengkondisikan anak dengan lingkungan yang Islami. Kenalkan suasana puasa di lingkungan keluarga, karena suasana itu bagi anak merupakan bekal dalam mempersiapkan dirinya, sehingga anak terbiasa dengan suasana berpuasa. Anak tidak melihat ibu, bapak, dan anggota keluarganya makan di siang hari, tetapi makan ketika terbenam matahari. Perlu juga diingat adalah jangan sekali-sekali memaksa mereka melakukan puasa secara terus menerus sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari, namun latih mereka untuk melakukan puasa secara bertahap, mulai dari hitungan jam sampai akhirnya mereka dapat terus berpuasa dari terbit fajar hingga berbuka pada magribnya. Setelah anak mampu berpuasa selama satu hari penuh, kenalkan mereka dengan hal-hal yang membatalkan puasa.[42]
Muhammad Suwaid menjelaskan bahwa hadis yang menceritakan bahwa Nabi merestui A’isyah yang sedang bermain dengan boneka, menunjukkan kepada kita bahwa anak kecil memang butuh mainan. Demikian juga hadis tentang burung nughar kecilnya Abu Umair yang dibuat mainan olehnya dan hal itu juga disaksikan oleh Nabi menjadi bukti lain akan adanya kebutuhan mainan bagi anak agar ia bisa riang gembira. Dalam hal ini kedua orang tuanyalah yang mesti memberikan mainan untuk anaknya yang sesuai dengan usia dan kemampuannya, dan kemudian menyerahkannya secara lansgung, hal itu dimaksudkan agar akal dan panca inderanya beraktivitas dan bisa tumbuh sedikit demi sedikit.
Agar mainan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka benar-benar bisa bermanfaat, maka kedua orang tua perlu mempertimbangkan; apakah mainan itu termasuk mainan yang akan membangkitkan aktivitas jasmani dan kesehatan yang berguna bagi anak. Apakah mainan tersebut membeikan kesempatan bagi anak untuk menyusunnya, dan apakah mainan tesebut bisa mendorong anak untuk meniru perilaku orang-orang dewasa dan cara berpikir mereka. Jika jawaban atas semua pertanyaan tersebut adalah “ya”, maka mainan tersebut berarti sesuai untuknya dan memberikan manfaat edukatif.[43] Selain memberi permainan kepada anak, bermain dengan anak dan bertingkah seperti mereka dalam bergaul dengan mereka akan menumbuhkan semangat di dalam jiwanya dan juga akan membantunya menampilkan serta mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya.[44] Dalam al-Ishabah dikatakan bahwa Rasulullah saw pernah bermain-main dengan Hasan dan Husin ra. Rasulullah saw. Merangkak di atas kedua tangan dan lututnya, dan kedua cucunya tersebut bergelantungan dari kedua sisinya, dan merangkak bersama keduanya.[45] Bernyanyi juga satu cara yang baik diterapkan dalam pembelajaran pada anak usia dini. Bernyanyi di sini bukan hanya mengajari anak menyanyikan berbagai lagu, tetapi dapat dilakukan untuk mengajarkan anak membaca huruf hijaiyah dengan cara membacanya secara berirama sehingga anak merasa senang dan rilek dalam mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya. Selain itu, belajar sambil bernyanyi juga akan memberi keceriaan dan kebahagiaan kepada anak dalam belajar. Keceriaan dan kebahagiaan memainkan peran penting dalam jiwa anak secara menakjubkan, serta memberikan pengaruh kuat.
Anak-anak usia dini tentu saja ingin selalu riang gembira, selanjutnya keceriaan dan kegembiraan anak itu akan melahirkan rasa optimisme dan percaya diri serta akan selalu siap untuk menerima perintah, peringatan atau petunjuk dari orang tua atau orang dewasa lainnya. Adalah Rasulullah senantiasa menanamkan jiwa periang dan kegembiraan di dalam jiwa anak dan hal itu beliau lakukan dengan bebagai macam cara. Di antaranya adalah dengan menyambut mereka dengan sambutan yang hangat ketika bertemu dengan mereka, mengajak mereka bercanda, menggendong mereka dan meletakkan mereka di pangkuan beliau, mendahulukan mereka dengan memberi makanan yang baik, dan dengan cara makan bersama-sama dengan mereka.[46] Juga tidak kalah pentingnya adalah pembelajaran dengan cara memberikan atau menyajikan kisah-kisah Islami yang bersumber dari Al Qur-an dan Hadis Rasul. Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain. Hal ini karena kisah Qur-an dan nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologis dan edukatif  yang sempurna, rapi, dan jangkauan yang luas.
Di samping itu kisah eduktif dapat melahirkan kehangatan perasaan dan vitalitas serta aktvitas di dalam jiwa, yang selanjutnya memotivasi anak didik untuk mengubah perilakunya dan memperbarui tekadnya sesuai dengan tuntunan, pengarahan dan ide-ide yang terkandung dalam kisah tersebut.[47] Kisah Qur-ani bukanlah karya seni yang tanpa tujuan, melainkan merupakan satu di antara sekian banyak metode Qur-ani untuk menuntun dan mewujudkan tujuan keagamaan dan ketuhanan serta satu cara untuk menyampaikan ajaran Islam terutama bagi anak-anak usia dini.
Tentu saja kemasan kisah qur-an yang dapat diterapkan dalam memberikan pendidikan kepada anak usia dini, merupakan kisah yang dikemas secara indah dan menarik bagi anak-anak usia dini. Misal kisah-kisah yang dapat diberikan kepada anak usia dini antara lain adalah kisah para Nabi dan Rasul-Rasul Allah, kisah anak durhaka, kisah-kisah anak soleh dan kisah-kisah orang pemberani dalam kebenaran, serta kisah-kisah lain mengandung nilai pendidikan dan mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak usia dini.
Artinya "Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman". (Huud: 120)
Dijelaskan oleh Ibnu Kasir bahwa dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa semua kisah para rasul terdahulu bersama umatnya masing-masing sebelum Muhammad, Kami ceritakan kepadamu perihal mereka. Semua itu diceritakan untuk meneguhkan hatimu, hai Muhammad, dan agar engkau mempunyai suri teladan dari kalangan saudara-saudaramu para rasul yang terdahulu.[48] Artinya "Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir".(Al A'raaf: 176)
Ayat 176 ini diturunkan menceritakan kisah Bal’aam, untuk mengingatkan manusia bahwa meskipun seorang itu sudah mencapai ilmu yang sangat tinggi sebagaimana yang dicapai oleh para Nabi tetapi lalu ia maksiat dan condong kepada dunia, maka akhirnya bernasib sebagaimana Bal’aam yang disebut oleh Allah: Famasaluhu kamasalail kalbi in tahmil alaihi yalhas au tatrukhu yalhas. Orang itu contohnya bagaikan anjing yang selalu menjilat-jilat dan tidak berguna baginya segala peringatan, ancaman dan nasihat, tidak berguna baginya iman dan pengetahuannya. Karena itulah ayat ditutup dengan kalimat “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir" Ikutilah kisah ini supaya mereka berpikir dan memperhatikan, dan dapat mawas diri dan berhati-hati jangan sampai terjadi seperti itu[49].
Kisah bisa memainkan peran penting dalam menarik perhatian, kesadaran pikiran dan akal anak. Nabi biasa membawakan kisah di hadapan sahabat, yang muda maupun yang tua, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang dikisahkan beliau, berupa berbagai peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu, agar bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang sekarang dan yang akan datang hingga hari kiamat.Yang penting dicatat adalah bahwa kisah-kisah yang disampaikan oleh Nabi bersandar pada fakta riil yang pernah terjadi di masa lalu, jauh dari khurafat dan mitos. Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan keyakinan sejarah pada diri anak, di samping juga menambahkan spirit pada anak untuk bangkit serta membangkitkan rasa keislaman yang bergelora dan mendalam.
Kisah-kisah para ulama, ‘amilin dan orang-orang mulia yang shalih merupakan sebaik-baik sarana yang akan menanamkan berbagai keutamaan dalam jiwa anak serta mendorongnya untuk siap mengemban berbagai kesulitan dalam rangka meraih tujuan yang mulia dan luhur. Di samping itu juga akan membangkitkan untuk mengambil teladan orang-orang yang penuh pengorbanan sehingga ia akan terus naik menuju derajat yang tinggi dan terhormat.[50]
4. Mendidik dengan Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan dan membuat senang terhadap sesuatu maslahat, kenikmatan, atau kesenangan akhirat. Sedangkan tarhib adalah ancaman dengan siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah, atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah.[51] Ini merupakan metode pendidikan Islam yang didasarkan atas fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, seperti keinginan terhadap kekuatan, kenikmatan, kesenangan, dan kehidupan abadi yang baik serta ketakutan akan kepedihan, kesengsaraan dan kesudahan yang buruk. Ditinjau dari segi paedagogis, hal ini mengandung anjuran, hendaknya pendidik dan atau orang tua menanamkan keimanan dan aqidah yang benar di dalam jiwa anak-anak, agar pendidik dapat menjanjikan (targhib) surga kepada mereka dan mengancam (tarhib) mereka dengan azab Allah, sehingga hal ini diharapkan akan mengundang anak didik untuk merealisasikan dalam bentuk amal dan perbuatan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.
Dalam memberikan pendidikan melalui targhib dan tarhib, pendidik hendaknya lebih mengutamakan pemberian gambaran yang indah tentang kenikmatan di surga dan berbagai kenikmatan lain yang diperoleh sebagai balasan bagi amal sholeh yang dikerjakan, sekaligus juga diberikan sedikit gambaran tentang dahsyatnya azab Allah yang diberikan sebagai ganjaran pelanggaran yang dilakukan.[52] Pendidikan dengan menerapkan metode ini  merupakan upaya untuk menggugah, mendidik dan mengembangkan perasaan Rabbaniyah pada anak sejak usia dini, perasaan-perasaan yang diharapkan dapat dikembangkan melalui metode ini antara lain; khauf kepada Allah, perasaan khusyu', perasaan cinta kepada Allah, dan perasaan raja' (berharap) kepada Allah. Targhib dan tarhib merupakan bagian dari metode kejiwaan yang sangat menentukan dalam meluruskan anak, ia merupakan cara yang jelas dan gamblang dalam pendidikan ala Rasul, beliau sering menggunakannya dalam menyelesaikan masalah anak di segala kesempatan, terutama dalam masalah berbakti kepada orang tua. Beliau mendorong anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya serta menakut-nakutinya dari berbuat durhaka kepada keduanya. Hal itu tidak lain bertujuan agar anak itu menyambut hal ini dan mendapatkan pengaruh sehingga ia bisa memperbaiki diri dan perilakunya.[53]

5. Pujian dan Sanjungan
Tidak diragukan lagi, pujian terhadap anak mempunyai pengaruh yang sangat dominan terhadap dirinya, sehingga hal itu akan menggerakkan perasaan dan inderanya. Dengan demikian, seorang anak akan bergegas meluruskan perilaku dan perbuatannya. Jiwanya akan menjadi riang dan juga senang dengan pujian ini untuk kemudian semakin aktif. Rasulullah sebagai manusia yang mengerti tentang kejiwaan manusia telah mengingatkan akan pujian yang memberikan dampak positif terhadap jiwa anak, jiwanya akan tergerak untuk menyambut dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.[54] Anak kecil yang masih berada dalam umur tiga tahun pertama bukannya tidak mempunyai perasaan kehormatan serta harga diri, ia menyadari bahwasanya dirinya adalah anak kecil, akan tetapi dalam lubuk hatinya ia tidak menerima jika dianggap remeh dalam bentuk dan sikap yang bagaimanapun.
Selama ia masih tumbuh berkembang maka perasaan dihargai dan dihormati ikut tumbuh kembang dalam dirinya. Perasaan harga diri dan dihormati merupakan pembawaan manusia secara fitrah, baik sebagai anak kecil maupun sebagai manusia dewasa, sebab sesungguhnya manusia merupakan makhluk yang dihormati lagi dimuliakan. Mengenai bentuk dan ragam pemberian pujian atau penghargaan cukup banyak, yang terpenting adalah anak sejak dini dipandang sebagai manusia sekaligus diperlakukan secara manusiawi.[55]
Secara lebih lanjut, pujian dan sanjungan dapat diberikan dalam bentuk hadiah. Namun orang tua hendaklah berhati-hati dalam memilih hadiah, agar tidak menimbulkan ketagihan. Hindarilah memberi hadiah uang, karena selain benda ini sangat menggiurkan, orang tua pun harus bekerja dua kali untuk membimbing anak agar mampu membelanjakan uangnya dengan baik. Pilihlah hadiah yang bersifat edukatif, sehingga tak jadi persoalan jika anak-anak kemudian ketagihan. Buku cerita, alat-alat sekolah serta perlengkapan kegemaran anak akan cukup menyenangkan mereka. Pilih barang yang saat itu sedang mereka butuhkan, sehingga orang tua tidak perlu membelikannya lagi, misalnya jika sepatunya sudah mulai nampak berlubang, mengapa tidak menjadikannya saja sebagai hadiah, sebab kalaupun tidak sebagai hadia toh akhirnya orang tua harus membelikannya juga. Orang tua harus sejak awal dan terus-menerus menanamkan pengertian bahwa hadiah yang diberikan kepada anak bukan semata untuk menghargai prestasi akhir mereka, namun lebih dititikberatkan pada usaha anak untuk mengubah dirinya.[56]

6. Menanamkan Kebiasaan yang Baik
Dalam usaha memberikan pendidikan dan membantu perkembangan anak usia dini, selain pengembangan kecerdasan dan keterampilan, perlu juga sejak dini ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Pendidikan dengan mengajarkan dan pembiasaan adalah pilar terkuat untuk pendidikan anak usia dini, dan metode paling efektif dalam membentuk iman anak dan meluruskan akhlaknya, sebab metode ini berlandasakan pada pengikutsertaan. Tidak diragukan lagi, mendidik dengan cara pembiasaan anak sejak dini adalah paling menjamin untuk mendatangkan hasil positif, sedangkan mendidik dan melatih setelah dewasa sangat sukar untuk mencapai kesempurnaan[57]. Ada beberapa hal yang dapat dianggap positif untuk dibiasakan terhadap anak usia dini, di antaranya adalah: Anak harus dibiasakan menjaga kebersihan, sebab Islam sangat mementingkan kebersihan, sebagaimana dapat dibaca pada firman Allah berikut ini:
Artinya: “Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (Taubah: 108)
Ayat di atas menjelaskan tentang kecintaan Allah terhadap orang yang bersih, yaitu orang menyucikan dirinya dari segala macam najis dan kotoran sekaligus membersihan jiwanya dari segala macam dosa.[58] ِAyat ini sejalan dengan sabda Rasul:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ إِلْيَاسَ عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِي حَسَّانَ قَال سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ…[59]
Artinya: “Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan”… (R. at-Tirmiżi)
Dalam rangka membiasakan hidup bersih dan hidup sehat, pada anak usia dini, hendaklah anak dibiasakan untuk; berdo’a sebelum tidur dan ketika bangun, mandi secara teratur, menggosok gigi setiap bangun dan menjelang tidur, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta membuang sampah pada tempatnya. Anak dilatih dan dibiasakan hidup teratur, misalnya dengan membiasakan anak makan secara teratur dan tidak berlebihan, sebagaimana difirmankan Allah:
Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.(Al A’raaf ayat 31)
Makna yang terdapat pada ayat ini adalah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu selagi engkau hindari dua pekerti, yaitu berlebih-lebihan dan sombong. Allah menghalalkan makan dan minum selagi dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak untuk kesombongan[60]. Dalam hadis Rasul kita temukan tentang aturan makan dan minum, yaitu seperti yang tersebut dalam hadis berikut ini:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ جَدِّهِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

Artinya: Dari Jaddah ibn Umar Rasulullah berkata: “Jika makan salah seorang diantara kamu, maka makanlah dengan tangan kanan, dan jika minum, maka minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya syaitan makan dan minum dengan tangan kiri”(R. At-Tirmizi)[61]
Anak sejak dini hendaknya dibiasakan hidup sederhana dan hemat. Untuk itu sebaiknya anak tidak dibiasakan jajan, sebab jajan di samping merupakan kebiasaan yang tidak baik, juga makananan yang ia beli belum terjamin kebersihannya hingga bisa membahayakan kesehatannya.[62] Itulah beberapa metode pendidikan yang menurut hemat penulis layak untuk diterapkan pada pelaksanaan pendidikan anak usia dini. Dengan metode-metode tersebut secara teoritis akan memberikan hasil positif terhadap pembinaan dan pendidikan anak usia dini, baik itu yang dilaksanakan orang tua di rumah, maupun oleh para guru di sekolah/lembaga pendidikan anak usia dini.

Rererensi :
[30] Al-Baidhawi, Tafsir Baidhawi, (http://www.Altafsir.com) Juz 5 h. 9, baca An-Naisaburi, Tafsir An-Naisaburi, juz 1 h. 81.
[31] M. Nasib Ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Kasir, jilid 3 (Jakarta: Gema Insani, 1999), h. 841.
[32] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al- Aulad Fi al- Islam, terj. Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h.37
[33] Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah…, h. 458.
[34]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, (Semarang: Diponegoro,1989), h. 366.
[35] Muslim, Şahih Muslim Juz 1, h. 217.
[36] Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 1, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 260.
[37] Suwaid, Mendidik Anak…, h. 178.
[38]Muhammad Zuhaili, Al Islam Wa Asy Syabab, terjemahan Arum Titisari, Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini, (Jakarta: AH. Ba’adillah Press, 2002), h. 70.
[39] Irawati Istadi, Mendidik Dengan Cinta, (Bekasi: Pustaka Inti, 2006), h. 130.
[40]Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Şahih Muslim Juz 1, (Bandung: Al Ma’arif,tt),  h  460.
[41] Suwaid, Mendidik Anak…, h. 194.
[42] Ummi Aghla, Mengakrabkan Anak…, h. 98.
[43] Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah…, h. 479-480.
[44] Ibid., h. 521.
[45] Ulwan, Pedoman Pendidikan…, h. 33.
[46] Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah…, h. 514.
[47]An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode…, h. 332.
[48] Al Imam abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terjemahan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 12, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2003), h. 184.
[49] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, jilid III, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986), h. 509.
[50] Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah…, h. 486.
[51] An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode…, h. 412
[52]Ibid., h. 414.
[53] Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah…, h. 525.
[54] Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah…, h. 520.
[55] Ali Qutb, Auladuna fi Dlau-it Tarbiyyatil Islamiyyah, h. 72.
[56] Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak, (Bekasi: Pustaka Inti, 2005), h. 26.
[57]Ulwan, Pedoman Pendidikan…, jilid 2,  h. 64.
[58]Al Imam abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terjemahan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 11, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2003), h. 48.
[59] Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 4, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 198.
[60] Al Imam abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terjemahan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 8, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2003), h. 289.
[61]Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 3, (Semarang: Toha Putra,tt,) h.  166.

[62] Panitia Muzakarah Ulama, Memelihara Kelangsungan Hidup Anak Menurut Ajaran Islam, (Jakarta: Kerjasama Departemen Agama, MUI dan UNICEF, 1987/1988), h. 58-59.

Minggu, 06 November 2016

ALAT PERMAINAN EDUKATIF BERBASIS MODEL

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah swt Tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan kepada kita semua kesehatan, kesempatan dan semua nikmatnya yang lain, baik yang zohir maupun yang bathin sehingga kita bisa melakukan aktifitas dan rutinitas kita sehari-hari dengan tanpa ada penghalang sedikit pun. Semua nikmat tersebut sebagai bukti dari kasih sayang-Nya kepada seluruh mahluk-Nya maka wajib hukumnya kita bersyukur pada-Nya.
Sholawat dan salam semoga tetap selalu tercurahkan kepada kekasih-Nya yang mulia Nabi Muhammad saw, kepada seluruh keluarganya, isterinya, sahabatnya dan pengikutnya sampai akhir zaman.
Makalah yang ada dihadapan pembaca merupakan salah satu dari sekian makalah yang ada yang membahas mengenai Alat Permainan Edukatif Berbasis Model. Tentunya di dalam makalah ini banyak sekali kekurangannya. Baik dari segi referensi-referensi, konten, maupun dalam model penulisannya. Maka melalui kesempatan ini penulis meminta kritiknya yang bersifat membangun agar makalah ini dapat disempurnakan pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Lebih dan kurangnya apa yang penulis paparkan di dalamnya, melalui lubuk hati yang paling dalam penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya.





                        Yogyakarta,…..Juni  2016



                             Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang  ................................................................................................... 1
B.  Rumusan Masalah................................................................................................ 2
C.  Tujuan Penulisan.................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.  Pengertian APE                                                    ………………………………………   3
B.  Syarat-syarat APE yang ideal ……………………............................................. 3
C.  Cara Mengembangkan Permainan Edukatif Berbasis Model ………………….. 4
D.  Pengaruh Permainan Edukatif Berbasis Model Bagi Perkembangan Anak........  6
BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan .........................................................................................................  8
Daftar Pustaka






 BAB I       
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai pendidikan yang diselenggarakan sebelum pendidikan dasar, memiliki kelompok sasaran dari usia 0-6 tahun yang sering disebut dengan Golden age perkembangan.[1] Pendidikan yang akan diberikan kepada anak hendaklah disesuaikan dengan usia perkembangannya, karena tujuan pendidikan yang diberikan kepada mereka adalah untuk mengembangkan kepribadian,  pengetahuan, dan keterampilan, dan berusaha mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.[2] 
Dalam konteks pendidikan, pembelajaran dalam dunia anak pada hakikatnya adalah bermain,[3] dimana bermain merupakan salah satu yang menjadi bagian penting dalam pendidikan anak usia dini (PAUD).[4] Bagi anak, bermain bukan sekedar kesenangan, melainkan juga merupakan sarana belajar untuk mendapatkan pengetahuan, pembentukan watak dan sosialisasi.[5] Bahkan salah seorang tokoh sekaligus penggagas Kindergarten mendeskripsikan adanya hubungan yang kuat antara bermain dan belajar.[6] Melalui  bermain anak dapat bersosialisasi, mengekspresikan hati dan perasaannya serta mendapatkan pengalaman yang nyata dan menyenangkan. Bahkan melalui bermain hal itu sebagai wahana perkenalan anak terhadap diri dengan  lingkungannya.[7]
Apapun alasannya, dan bagaimanapun cara bermain anak, yang jelas hal itu harus mengedepankan belajar. Artinya bermain untuk belajar bukan semata-mata untuk bermain.[8] Untuk mensinergikan antara bermain dan belajar dibutuhkan suatu permainan yang edukatif. Tetapi realitas yang terjadi di masyarakat masih ada diantara mereka, terutama para orang tua yang belum paham hakikat dari permainan edukatif itu sendiri, sehingga ada orang tua yang melarang anaknya bermain dengan alasan mengerjakan tugas sekolah atau belajar. Bahkan, orang tua tidak segan-segan memarahi anaknya jika bermain terlalu lama dan mengambaikan tugas sekolahnya.[9]    
Menurut Yuliani Nurani Sujiono sebagaimana yang dikutib oleh Jamal Ma’mur Asmani, mengatakan bahwa pada dasarnya bermain memiliki tujuan utama, yakni memelihara perkembangan atau pertumbuhan optimal anak usia dini melalui pendekatan bermain yang kreatif, interaktif dan terintegrasi dengan lingkungan bermain anak.[10]  Untuk menuju hal tersebut, diperlukan fasilitas dan sarana dalam berbagai bentuk dan jenis, antara lain alat peraga dan alat permainan. Semakin banyak alat permainan edukatif yang diberikan, maka semakin tinggi hasrat anak untuk mencoba dan mengeksplorasi segala sesuatu. Dalam makalah ini, akan dipaparkan lebih jauh mengenai pengembangan alat permainan edukatif berbasis model yang tentunya sarat dengan nilai dan tumbuh kembang anak usia dini.
B.       Rumusan Masalah
Untuk rumusan masalah dengan judul “ Pengembangan Alat Permainan Edukatif Berbasis Model ” adalah sebagai berikut :
1.         Apakah pengertian dari alat permainan edukatif ?
2.         Apa saja syarat-syarat APE yang ideal ?
3.         Bagaimana cara mengembangkan permainan edukatif berbasis model ?
4.         Apakah ada pengaruhnya permainan edukatif berbasis model bagi perkembangan anak ?
C.       Tujuan Penulisan
Untuk tujuan penulisan makalah dengan judul  “ Pengembangan Alat Permainan Edukatif Berbasis Model ” adalah sebagai berikut :
1.         Untuk mengetahui apakah pengertian dari alat permainan edukatif.
2.         Untuk mengetahui apa saja syarat-syarat APE yang ideal.
3.         Untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan permainan edukatif berbasis model.
5.         Untuk mengetahui apakah ada pengaruhnya permainan edukatif berbasis model bagi perkembangan anak.


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian alat permainan edukatif
APE merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran anak di TK. Ketersediaan alat permainan tersebut sangat menunjang terselenggaranya pembelajaran anak secara epektif dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal.[11] Pada dasarnya APE merupakan semua sarana yang dapat dipakai oleh anak untuk bermain, belajar, dan bereksplorasi sesuai dengan usianya. APE harus mengandung nilai-nilai edukatif, mampu mengembangkan seluruh potensi anak, dan dapat mengakomodasi seluruh tingkat pencapaian perkembangan anak menjadi semakin baik.[12]
Alat permainan edukatif merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana atau peralatan untuk bermain yang mengandung nilai-nilai pendidikan dan dapat mengembangkan seluruh potensi anak. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Mayke Sugianto yang mengatakan bahwa APE merupakan alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan dan perkembangan anak usia dini.[13]
Dalam pengertian yang lebih luas, APE merupakan segala sarana yang dapat merangsang aktivitas anak untuk mempelajari sesuatu tanpa anak menyadari, baik menggunakan teknologi modern maupun sederhana, bahkan dapat juga bersifat tradisional yang penting sarat dengan nilai-nilai edukatif.[14]
B.       Syarat-syarat APE yang ideal
APE pada dasarnya bukan merupakan hal yang baru terutama bagi para guru yang sudah lama mengajar di taman kanak-kanak. Namun seiring dengan berkembangnya sistem dan program pendidikan anak usia dini di Indonesia, maka APE pun tampaknya ikut berkembang, baik dari segi penyajian fisik maupun pemahaman. Dalam keseharian kita, secara umum banyak dijumpai orang tua yang belum mengetahui bagaimana memilih jenis alat permainan edukatif yang ideal. Berikut ini akan diuraikan syarat-syarat APE yang ideal bagi AUD, yaitu:[15]
1.         Mengandung nilai-nilai edukatif
Artinya pemainan tidak harus mahal berupa yang dibeli di toko, tetapi boleh menggunakan dari bahan-bahan alam yang penting sarat dengan nilai-nilai edukatif.
2.         Memenuhi minat dan kebutuhan anak pada usianya
Artinya APE harus sesuai dengan minat dan kebutuhan anak sesuai usianya agar benar-benar berfungsi sebagai bagian yang penting bagi tumbuh kembang anak.
3.         Sesuai dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan anak
Artinya APE harus proporsional, tidak membebani fisik, tidak terlalu berat dan sarat dengan perkembangan anak.
4.         Tahan lama, mudah dibuat, mudah didapat, dan mudah dipakai oleh anak.[16]
Dalam hal ini untuk melindungi anak dari hal-hal yang dapat merugikan tumbuh kembangnya dan dapat mematikan kreativitasnya.
5.         Cocok dengan tingkat perkembangan anak.[17]
C.       Cara Mengembangkan Permainan Edukatif Berbasis Model
Bermain bagi anak usia dini dapat mempelajari dan belajar banyak hal, dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerja sama, dan menjunjung tinggi sportivitas. Disamping itu, aktivitas bermain juga dapat mengembangkan kecerdasan mental, spiritual, bahasa, dan keterampilan motorik anak usia dini. Oleh karena itu, bagi anak usia dini tidak ada hari tanpa bermain, dan bagi mereka bermain merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat penting dan menyenangkan.[18] Dalam islam dianjurkan bagi orang tua sedapat mungkin memberikan dorongan dan motivasi bagi anaknya untuk aktif dalam berbagai permainan sebagai dasar untuk pengembangan keterampilan di masa yang akan datang. Hal ini sudah pernah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad saw sewaktu Aisyah masih kecil, beliau sering bermain-main dengannya. Dalam hadits dinyatakan sebagai berikut :
“ Aisyah berkata: “ Aku melihat Rasulullah saw berdiri di depan pintu kamarku, sementara orang-orang Habasyah sedang asyik bermain anggar di halaman masjid Rasulullah saw. Beliau menggendong aku hanya dengan kain selendangnya supaya aku bisa menonton permainan mereka, kemudian beliau berdiri supaya aku lebih leluasa melihat, karena beliau tahu, aku ini seorang gadis yang masih suka bermain.” (HR. Muslim).[19]
Tentunya didalam bermain dengan anak-anak, maka esensinya adalah edukatif dan bermanfaat. Edukatif artinya bersifat mendidik, memotivasi, membina, dan mungkin memperbaiki (remidial) agar proses perkembangan anak dapat berkembang secara optimal.[20] Bermanfaat artinya memberikan gambaran yang bermanfaat bagi peserta didik, orang tua, guru, pihak sekolah dan pihak terkait.[21] Diantara permainan edukatif adalah berbasis model. Artinya permainan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi, bereksplorasi dan mengungkapkan hati dan perasaannya melalui suatu model permainan. Diantara cara mengembangkan permainan edukatif berbasis model itu adalah sebagai berikut:  
1.         Permainan edukatif berbasis model melalui permainan “ siapa terbanyak ”
Aturan main dalam permainan ini adalah pada lantai diberi tanda lingkaran besar dan sekelilingnya terdapat lingkaran kecil. Jari-jari tengah lingkaran besar adalah  setengah meter dan jarak ke lingkaran kecil kira-kira 10 meter. Dalam lingkaran besar terdapat batu-batu kecil atau balok-balok kecil sebanyak 25 buah. Untuk jumlah pengikutnya bisa lebih dari tiga. Pada tiap lingkaran kecil berdiri seorang anak dalam lingkarannya. Dengan aba-aba guru anak yang berada dalam lingkaran lari secepat-cepatnya ke lingkaran besar mengambil satu batu, lari kembali dan menaruh batu itu dalam lingkarannya, kembali lagi ke lingkaran besar, mengambil satu batu dan seterusnya hingga lingkaran besar kosong. Cara penilaiannya adalah yang mempunyai jumlah batu yang terbanyak, dialah yang menang. Kemudian dilanjutkan dengan kelompok lain yang berlomba.
Catatan: (a) batu-batu harus ditaruh dalam lingkaran, bukan dilemparkan. (b) lebih baik mempergunakan balok kecil atau keratan-keratan bambu yang cukup besar dari pada batu.[22]
Nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam permainan ini adalah (a) ketangkasan, sehingga menuntut anak untuk benar-benar konsentrasi terutama saat-saat menanti peluit guru. (b) keseportifan anak terutama saat kembali lagi ke lingkaran kecilnya dan kembali lagi melaju kelingkaran besar. (c) kerapian terutama ketika meletakkan batu ke lingkaran kecilnya.      
2.         Permainan edukatif berbasis model melalui permainan “ raja bola ”
Aturan main dalam permainan ini adalah anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari lima orang anak. Masing-masing kelompok berbaris dan di depan kelompok masing-masing ada satu anak yang menjadi raja. Tiap raja diberi sebuah bola, lalu bola tersebut berganti-ganti dilemparkan ke kelompoknya dan dilemparkan balik oleh kelompoknya. Siapa yang melakukan kesalahan, yaitu tidak tepat atau tidak dapat menangkap bola mendapat hukuman yaitu pindah ke tempat nomor terakhir. Jika raja yang membuat kesalahan, iapun pindah ke tempat nomor terakhir dan nomor  satu menggantikannya menjadi raja. Cara penilaian dalam permainan ini adalah bagi kelompok yang melempar dengan tepat dan bolanya tidak pernah jatuh ke tanah, maka dialah pemenangnya.
Nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam permainan ini adalah (a) dapat mengembangkan aspek sosial dan moral anak, karena ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti oleh semua anak. (b) ketangkasan, terutama ketika melempar bola ke kelompok.[23]
D.      Pengaruh Permainan Edukatif Berbasis Model Bagi Perkembangan Anak
Permainan merupakan suatu laboratorium dimana anak dapat menerapkan keterampilan baru yang dipelajari dengan cara yang tepat. Disamping itu permainan juga dapat memberikan kontribusi yang unik bagi perkembangan anak yang dapat membantu mengembangkan potensi fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Ada beberapa pengaruh dalam permainan berbasis model ini kepada anak yang dapat meningkatkan daya perkembangannya, diantaranya :[24]
1.         Pengaruh pengembangan keterampilan gerak
Artinya dalam permainan ini berisi berbagai keterampilan gerak, mulai dari keterampilan gerak yang sederhana atau dasar hingga keterampilan gerak yang kompleks. Jika anak memiliki keterampilan gerak dasar yang baik, maka anak juga akan memiliki efisiensi dan kemampuan gerak yang baik, yang selanjutnya akan berkembang menjadi keterampilan gerak yang kompleks.
2.         Perkembangan fisik dan kesegaran jasmani
Dalam permainan ini sangat penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuh, termasuk mengembangkan daya tahan. Permainan ini juga berfungsi sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang bila tidak tersalur akan menyebabkan anak tegang, gelisah, dan lain-lain. Disamping itu, anak juga dapat mengembangkan keterampilan fisiknya dengan baik, sehingga memiliki kesehatan yang baik sebagai akibat dari bermain secara seportif.
3.          Dorongan berkomunikasi
Dalam suasana permainan ini dapat memberikan peluang bagi anak untuk berkomunikasi dengan teman bermainnya. Disamping itu, dengan berkomunikasi anak dapat saling memahami antara teman bermainnya (toleransi terhadap orang lain).[25]
4.         Penyaluran bagi energi emosional yang terpendam
Dalam permainan ini memberikan wahana yang baik bagi anak untuk menyalurkan ketegangan yang disebabkan oleh lingkungan terhadap aktivitas anak. Ketegangan tersebut merupakan energi emosional yang terpendam.
5.          Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan
Kebutuhan dan keinginan yang tidak terpenuhi dengan cara lain atau aktivitas lain seringkali dapat terpenuhi dengan bermain. Misalnya, anak yang tidak mendapatkan kesempatan dalam peran tertentu seringkali dapat mendapat peran tertentu dalam bermain.
6.         Sumber bermain itu sendiri.
Bermain dapat dikatakan sebagai bentuk miniatur dari kehidupan masyarakat. Dengan bermain berarti anak dapat memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai hal.[26] Bahkan banyak pelajaran dan pengalaman dapat diperoleh melalui bermain daripada di rumah atau di sekolah.
7.          Rangsangan bagi kreativitas
Melalui eksperimen dan eksplorasi dalam bermain, anak akan menemukan sesuatu dan terbiasa menghadapi berbagai persoalan dalam bermain untuk dipecahkan. Suasana dan kebiasaan ini biasanya akan memberikan transfer nilai ke dalam situasi lain, sehingga anak terbiasa untuk kreatif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan.[27]
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Permainan edukatif berbasis model merupakan permainan yang sangat mendukung tumbuh kembang anak. Hal ini terbukti dari pengaruh yang ditimbulkan olehnya seperti pengaruh pengembangan keterampilan gerak, perkembangan fisik dan kesegaran jasmani, dorongan berkomunikasi, penyaluran bagi energi emosional yang terpendam, penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan, sumber bermain, rangsangan bagi kreativitas, dan lain-lain. Dari semua pengaruh tersebut tidak heran kemudian banyak para ahli yang merekomendasikan bahwa belajar bagi anak usia dini pada hakikatnya adalah bermain.







DAFTAR PUSTAKA
Andang Ismail, Education Games: Menjadi Cerdas dan Ceria dengan Permainan Edukatif (Yogyakarta: Pilar Media, 2006)
Anna Craft, Membangun Kreatifitas Anak, (Jakarta: Inisiasi Press. 2003)
Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Usia Dini (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012)
Bayyinatul Muchtaromah, Pendidikan Reproduksi Bagi Anak Menuju Aqil Baligh (Yogyakarta: UIN-Malang Press, cetakan, 2008)
Badru Zaman, Pengembangan Alat Permainan Edukatif untuk Anak TK (Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia, 2006)
Cucu Eliyawati, Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar AUD (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005)
Ernawulan Syaodih, Bimbingan di TK (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005)
E.   Mulyasa, Manajemen PAUD (Bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan pertama, 2012)
Partini, Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Grafindo Litera Media, 2010)
Harun Rasyid, Mansyur dan suratno, Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2009)
http// Alat Permainan Edukatif. Diakses Rabu 14 April 2016.
Jamal Ma’mur Asmani, Buku Pintar Home Schooling (Jogjakarta: FlashBooks, cetakan pertama, Maret 2012)
Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas Belajar Berbasis Otak (Bandung: MLC, 2007)
Kunandar, Penilaian Autentik Berdasarkan Kurikulum 2013 (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013)
Mbak Itadz, Memilih, Menyusun dan Menyajikan Cerita Untuk Anak Usia Dini (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008)
Masnipal, Siap Menjadi Guru dan Pengelola PAUD Profesional (Jakarta: Gramedia, 2013)
Mukhtar Latif, dkk, Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014)
Muhammad Thobroni, dkk, Belajar dan Pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013)
Novan Ardy Wijayani & Barnawi, Format PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012)
Rudy Budiman, Kreativitas Melalui Pembuatan APE (Bandung: PPPPTK TK dan PLB, 2014)
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011)
Furqon Hidayatullah, Mendidik Anak dengan Bermain (Surakarta: LPP UNS, cetakan 1, September 2008)
Suyadi, Manajemen PAUD (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011)
---------, Psikologi Belajar PAUD (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2010)
Shoba Dewey Chugani, Anak Yang Cerdas Anak Yang Bermain (Jakarta: Gramedia, 2009)


[1] Harun Rasyid, Mansyur dan suratno, Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2009), hlm. 44. Lihat pula A. Martuti, Mendirikan dan Mengelola PAUD,
[2] Ernawulan Syaodih, Bimbingan di TK (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005), hlm. 5.
[3] Partini, Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Grafindo Litera Media, 2010), hlm. 50. Lihat pula Mbak Itadz, Memilih, Menyusun dan Menyajikan Cerita Untuk Anak Usia Dini (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), hlm. 16.
[4] Muhammad Thobroni, dkk, Belajar dan Pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 30.
[5] Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Usia Dini (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 123.
[6] Masnipal, Siap Menjadi Guru dan Pengelola PAUD Profesional (Jakarta: Gramedia, 2013), hlm. 126
[7] Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 28.
[8] Suyadi, Manajemen PAUD (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 153.  
[9] Suyadi, Psikologi Belajar PAUD (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2010), hlm. 297.  
[10] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Pintar Home Schooling (Jogjakarta: FlashBooks,, cetakan pertama, 2012), hlm. 127
[11] Badru Zaman, Pengembangan Alat Permainan Edukatif untuk Anak TK (Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia, 2006), hlm. 1.
[12] http// Alat Permainan Edukatif. Diakses Rabu 14 April 2016.
[13] Cucu Eliyawati, Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar AUD (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005), hlm. 62.
[14] Andang Ismail, Education Games: Menjadi Cerdas dan Ceria dengan Permainan Edukatif (Yogyakarta: Pilar Media, 2006), hlm. 155-156.
[15] Anna Craft, Membangun Kreatifitas Anak, (Jakarta: Inisiasi Press. 2003), hlm. 78-79.
[16] Rudy Budiman, Kreativitas Melalui Pembuatan APE (Bandung: PPPPTK TK dan PLB, 2014), hlm. 28.
[17] Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas Belajar Berbasis Otak (Bandung: MLC, 2007), hlm. 221.
[18] E. Mulyasa, Manajemen PAUD (Bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan pertama, 2012), hlm. 166
[19] Bayyinatul Muchtaromah, Pendidikan Reproduksi Bagi Anak Menuju Aqil Baligh (Yogyakarta: UIN-Malang Press, cetakan pertama, 2008), hlm. 133.
[20] Kunandar, Penilaian Autentik Berdasarkan Kurikulum 2013 (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013), hlm. 51.
[21] Masnipal, Siap Menjadi Guru dan Pengelola PAUD Profesional , op,cit, hlm. 284
[22] Furqon Hidayatullah, Mendidik Anak dengan Bermain (Surakarta: LPP UNS, cetakan pertama, 2008), hlm.  40
[23] Furqon Hidayatullah, Mendidik Anak dengan Bermain …,Op,cit, hlm. 38.
[24] Mukhtar Latif, dkk, Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014), hlm. 110. Lihat pula Novan Ardy Wijayani & Barnawi, Format PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 123-124.
[25] Shoba Dewey Chugani, Anak Yang Cerdas Anak Yang Bermain (Jakarta: Gramedia, 2009), hlm. 66.
[26] Bayyinatul Muchtaromah, Pendidikan Reproduksi Bagi Anak Menuju Aqil Baligh, Op,cit, hlm. 131.
[27] Furqon Hidayatullah, Mendidik Anak dengan Bermain ,Op,cit, hlm  9.